Aku lah Si Telaga

Name: taty haryati

"aku berpikir, maka aku ada. di tempat aku berpikir, di situlah aku berada" (jacques lacan) maka gumamku adalah bahasa/yang melebarkan sayapnya/ke setiap penjuru kata/bersiaplah dengan akarnya/agar kau tak tersesat di dalamnya// (Maka Gumamku Adalah Bahasa, 1999)

Friday, June 30, 2006

RUMAH

“rumah kita adalah serupa deret buku dalam rak penuh debu.
di situ hanya akan kelengangan, jika kau tak mengambilnya satu
dan mencoba membuka sampulnya.”

(aku telah membukanya. tapi apa yang kutemukan hanya sebaris
kursi di ruang tamu serupa kata pengantar yang berliku: ada hias
ukir jepara di situ. bersulur-sulur. ceruk teratai pada batang-batang
jatinya melempar senyum patah dari kota yang tak berpeta di sini.
jadi tak berarti. juga ada ruang tidur yang berlarat-larat
memperpanjang tiap halamannya yang menebalkan kemasannya.
dan kursi-kursi makan juga mengental kosong. ada berserak remah
basi pada meja di hadapannya serupa baris kata yang belum
sempat diperbaiki.

tapi ini rumah kata ibu. ada sejarah di sini: ayah, ibu dan sepotong
cinta yang menyatukan mereka. lihatlah, potret keluarga tergantung
di situ, pada dinding yang menyimpan retak tertahan dari sepi yang
tergurat dalam senyum wajah sunyi kami di atas kertasnya.
bingkainya meniupkan harum melati dan kenangan basah
yang pernah ditebar sekali saat nenek ditimbun bumi.

ya, ini rumah. rumah kami.
meski mati selalu tertanam di sini.)

1996

Saturday, June 24, 2006

pada tubuhku hanya senyap tersisa
tak ada kata, tak ada nyawa
kematian telah membungkusnya.
sejak ia kau coba baca
sejak jauh sebelum ada
yang ingin menyibaknya

(11 Mei 2006)

Sehari setelah potongan puisi itu saya tulis, (dengan tanpa diniatkan mencarinya) akhirnya saya menemukan novel Frida karya Barbara Mujica yang sudah setahun lebih saya cari berulang-ulang di beberapa toko buku yang kebetulan saya lewati. Saya menemukan novel indah ini tertumpuk di antara deretan-deretan buku di dalam toko buku Kalam. Magrib itu sebenarnya saya tidak berniat membeli buku apapun di toko buku kecil itu. Sore itu saya ada janji dengan teman. Untuk membunuh waktu menunggu yang membosankan dan menjauhkan diri dari kebisingan di halaman kedai tempo yang sedang ramai dengan suara musik dari band di panggung peringatan acara Waisak bertema merayakan pluralitas, saya memutuskan masuk ke toko buku yang kebetulan masih buka itu. Saya akhirnya membeli novel itu, dengan antusiasme seperti takut 'kehilangan' lagi.

Tujuh hari kemudian, saya pergi ke Bandung untuk menghadiri Festifal Mei. Hari kedua festifal, di perjalanan menuju Gedung pementasan di Braga, di dalam taxi yang kami (saya, Hikmat dan Mona) tumpangi, saya membuka resleting ransel untuk mencari pulpen yang Mona butuhkan. Dia ingin mencatat sesuatu. Dari tas ransel yang saya buka resletingnya, Mona melihat Novel Frida menyembul sedikit keluar. "Elo baru baca novel itu?" katanya dengan nada keheranan sederhana sebuah percakapan. Ya, saya memang terlambat sekali membaca novel itu. Saya terlambat dua tahun. Novel itu diterbitkan oleh Bentang pada Juni 2004. Dan saya menemukannya baru pada Mei 2006! Tapi sebagai pembenaran, hingga kini, dalam hati saya selalu mengatakan: tak ada kata terlambat untuk menikmati Frida Kahlo...

Frida Kahlo lahir tahun 1907. Goenawan Mohamad "merangkum" kisah Frida Kahlo dalam bait-bait indah puisinya pada tahun 1993 hingga 1994. Julie Taymor membuat film Frida pada tahun 2002. Mujica sendiri menerbitkan novel Frida-nya pertama kali pada tahun 2000. Dan saya, yang hanya sekedar "penikmat" apresiasi ketiga apresiatur menakjubkan dari Frida Kahlo, boleh lah lebih terlambat lagi... :-)

Saya tak sedang ingin berbicara penjang lebar soal impresi saya tentang Frida. Karena saya bukan ahlinya. Tapi membaca Frida adalah membaca perayaan kesakitan dan kenikmatan tubuh hingga ke titik yang paling subtilnya, begitu impresi saya tentang Frida. Tubuh Frida ditakdirkan untuk membungkus jiwanya dalam kesakitan fisik yang teramat. Sementara tubuh-jiwa Frida sendiri, (dibiarkan Frida?) juga dalam kesakitan yang teramat: Rivera selalu melukai hati Frida. Membaca Frida, bagi saya, adalah membaca "luka" berat yang pada akhirnya "menularkan" dan menawarkan banyak kegelisahan dalam warna yang paling muramnya. Itu sebabnya, saya mencoba mengemas jauh ingatan tentang atmosfir "kesakitan" yang mengerikan dari tubuh, yang dibongkar para apresiator Frida Kahlo--baik GM dalam puisinya, Taymor dalam filmnya dan terutama Mujica dalam novelnya.

Tapi pagi tadi, saya kembali diingatkan akan semua itu--meski dalam paradoksnya: dalam sebuah video klip yang menampilkan sebuah band luar negeri, ditampilkan para pemain band yang masih muda-muda itu dengan pakaian hitam ditempeli gambar tengkorak tubuh. Sehingga ketika mereka bergoyang-goyang, seolah gambar tengkorak tubuh yang ditempel di baju mereka, juga ikut bergoyang-goyang seperti tengkorak hidup yang memang sedang bergerak. Lalu barganti-ganti dengan adegan anak-anak band itu bergaya, tampil sebuah adegan di mana seorang perempuan dan laki-laki muda sedang bercumbu di sebuah sofa. Lalu mereka mulai bersetubuh dengan bernafsu. Tapi kemudian dua tubuh bergumul itu tampil dalam gambar Xray tengkorak mereka. Dan mereka tetap bergumul. Lalu yang kemudian terlihat adalah, dua tengkorak yang sedang bersetubuh dengan bernafsu. Video klip 'nyleneh' itu, meninggalkan satu tanya dalam benak saya: apa arti tubuh dengan nafsu, kesakitan, kenikmatan yang menyertainya, jika ternyata daging itu tak menyelubungi tengkorak kita? Mungkin hanya satu hal yang perlu ditertawakan.

Monday, June 19, 2006

PISAU


ada dua buah pisau. di rumah ini. pisau dapur.

pisau dapur artinya pisau milik ibu. tapi itu bukan berarti kami tak boleh memakai atau menyentuh pisau-pisau itu. kami boleh menggunakannya, sesuai fungsinya: sesuatu adalah untuk bersama, karena ini keluarga. dan pisau itu kadang ada di mana saja: di meja makan, di atas tv atau pada bufet dekat lemari. karena ini keluarga, masing-masing orangnya tak selalu punya ingatan yang sama, menyimpan pisau itu pada tempatnya. di dapur.

pisau itu sudah ada sebelum saya lahir. begitu katanya. yang satu
bertangkai besi dan yang satu bertangkai kayu. tapi keduanya
sama-sama bisa menebar mati, kata ibu suatu kali. karenanya ia
memakai dan menyimpan pisau-pisau itu di dapur.

jika saya mengaduh karena luka pisau itu, ayah selalu katakan, “ah, itu masih jauh dari jantungmu!”. lalu ia berjalan meninggalkan saya yang membersihkan sendiri cairan merah torehannya pada jari.

tapi kali ini saya merasa pisau-pisau dapur itu berdiri tegak
mengarahkan tepi mata tajamnya ke telapak kaki. saya hanya
duduk merapat di atas kursi menggantungkan kaki. diam-diam.
mengharapkan ibu segera kembali. pisau itu pasti tertebar di
seluruh ruangan rumah ini. intipan rasa irisnnya membuat saya
ingin tak memiliki telapak kaki.

ayah pulang. mengucap salam di pintu depan. saya diam. di depan meja makan. menunggu ibu datang, memungut pisau-pisau itu dan
memakainya untuk mengupas kentang.


1996