RUMAH
“rumah kita adalah serupa deret buku dalam rak penuh debu.
di situ hanya akan kelengangan, jika kau tak mengambilnya satu
dan mencoba membuka sampulnya.”
(aku telah membukanya. tapi apa yang kutemukan hanya sebaris
kursi di ruang tamu serupa kata pengantar yang berliku: ada hias
ukir jepara di situ. bersulur-sulur. ceruk teratai pada batang-batang
jatinya melempar senyum patah dari kota yang tak berpeta di sini.
jadi tak berarti. juga ada ruang tidur yang berlarat-larat
memperpanjang tiap halamannya yang menebalkan kemasannya.
dan kursi-kursi makan juga mengental kosong. ada berserak remah
basi pada meja di hadapannya serupa baris kata yang belum
sempat diperbaiki.
tapi ini rumah kata ibu. ada sejarah di sini: ayah, ibu dan sepotong
cinta yang menyatukan mereka. lihatlah, potret keluarga tergantung
di situ, pada dinding yang menyimpan retak tertahan dari sepi yang
tergurat dalam senyum wajah sunyi kami di atas kertasnya.
bingkainya meniupkan harum melati dan kenangan basah
yang pernah ditebar sekali saat nenek ditimbun bumi.
ya, ini rumah. rumah kami.
meski mati selalu tertanam di sini.)
1996
“rumah kita adalah serupa deret buku dalam rak penuh debu.
di situ hanya akan kelengangan, jika kau tak mengambilnya satu
dan mencoba membuka sampulnya.”
(aku telah membukanya. tapi apa yang kutemukan hanya sebaris
kursi di ruang tamu serupa kata pengantar yang berliku: ada hias
ukir jepara di situ. bersulur-sulur. ceruk teratai pada batang-batang
jatinya melempar senyum patah dari kota yang tak berpeta di sini.
jadi tak berarti. juga ada ruang tidur yang berlarat-larat
memperpanjang tiap halamannya yang menebalkan kemasannya.
dan kursi-kursi makan juga mengental kosong. ada berserak remah
basi pada meja di hadapannya serupa baris kata yang belum
sempat diperbaiki.
tapi ini rumah kata ibu. ada sejarah di sini: ayah, ibu dan sepotong
cinta yang menyatukan mereka. lihatlah, potret keluarga tergantung
di situ, pada dinding yang menyimpan retak tertahan dari sepi yang
tergurat dalam senyum wajah sunyi kami di atas kertasnya.
bingkainya meniupkan harum melati dan kenangan basah
yang pernah ditebar sekali saat nenek ditimbun bumi.
ya, ini rumah. rumah kami.
meski mati selalu tertanam di sini.)
1996
