Aku lah Si Telaga

Name: taty haryati

"aku berpikir, maka aku ada. di tempat aku berpikir, di situlah aku berada" (jacques lacan) maka gumamku adalah bahasa/yang melebarkan sayapnya/ke setiap penjuru kata/bersiaplah dengan akarnya/agar kau tak tersesat di dalamnya// (Maka Gumamku Adalah Bahasa, 1999)

Sunday, July 30, 2006

BELAJAR (MENULIS) "TERANG"


Issa (1762-1826) menulis:

A lovely thing to see:
through the paper window's hole,
the Galaxy.


Saya (belajar meniru) menulis:

Sebuah sunyi ada di sini:
pada gedung tinggi di siang hari,
ia melihat hujan sendiri.



Saturday, July 29, 2006

ADA YANG HARUS MATI


ada yang terdiam di atas kursi di depan meja makan.
pada tangannya ia menggenggam sebuah gelas
yang menyimpan getar parkinson yang telah meradang.


di ruang tamu dua gelas kopi tersaji, ada yang berbisik
sayup antara kursi-kursi, meja, asbak, pot bunga plastik
dan keramik-keramik sepi di sudut ruangnya: "laki-laki
itu harus segera mati, atau kita yang harus kehilangan
diri. ia tak lagi berguna sebagai manusia. dan lagi, apa
yang telah ia lakukan pada masa sehatnya? ia tak hidup
dengan kita. ia hidup bersama kerja. kita toh manusia.
hidup untuk juga bicara, tidak melulu bekerja. aku tahu
ia bekerja untuk memberi makan kita. tapi ia selalu
kembali ke rumah ini dengan uang dan keasingan.
siapa dia? rasanya kita tak pernah mengenalnya, meski
kau anaknya dan aku istrinya. berapa hari lagi kita
harus merasa asing dengannya? aku rasa ia harus
segara mati."


sebuah gelas yang menyimpan getar parkinson
pada genggaman laki-laki di ruang makan itu
ingin sekali melemparkan dirinya keras-keras
hingga lumat ke depan tv.


1996


Suatu hari, di masa kuliah dulu, kami sekelas diminta menganalisa sebuah cerpen dari pengarang Jerman. Saya lupa judul cerpen dan nama pengarangnya. Pada intinya, cerpen itu bercerita tentang seorang lelaki tua, yang sedang sakit, atau malah bisa dibilang, sedang sekarat. Dalam sakitnya si lelaki digambarkan selalu mengigau dan bermimpi tentang pabrik tempat dia telah mengabdikan dirinya bertahun-tahun.

Si penulis cerpen antara lain menggambarkan itu dengan adegan di mana si tokoh, ketika tidur, tangannya selalu bergerak seperti sedang bekerja di pabriknya. Seperti sedang memindahkan produk-produk yang sedang diperiksanya. Gerakan tangan yang persis seperti gerakan sebuah mesin. Otomatis, terukur, dengan ketepatan yang nyaris sempurna-rutin berulang-berintensitas tinggi.

Pada saat terjaga, si lelaki tua itu selalu mengeluh, bahwa dia tidak bisa melihat pabrik tempatnya bekerja dari tempat tidurnya. Pabrik yang cerobong asapnya selalu mengeluarkan asap pekat hitam itu, adalah keindahan bagi si lelaki itu pada masa sakitnya. Lalu ia meminta si istri untuk menyuruh orang menanggalkan satu per satu papan kayu pagar, yang menghalangi pandangannya dari si pabrik. Si istri melakukannya. Satu per satu, pagar kayu rumahnya dibuka, sampai si lelaki tua itu bisa melihat pabrik yang dicintainya utuh seluruh. Tak lama setelah itu, dia meninggal.

Cerpen yang getir, pekat dan menyesakkan dada. Tapi kami harus menganalisanya dan menuliskannya dalam sebuah esei.
Ini kali kesekian di mana saya melihat, kapitalisme pada titik tertentu bisa menjadi begitu sangat mengerikan.


HUJAN DI SEBUAH MALL

(untuk Sapardi Djoko Damono)


di sebuah mall
dengan deretan etalase

yang tak lagi hanya sekedar
melantunkan waltz
laki-laki itu menyaksikan
tarian coca cola
dengan bibir merah rekahnya
berbisik lembut pada setiap yang bergegas:
"Do you wanna be American?
Just drink me!"


di luar, ia melihat hujan sepi
dalam mantel abu-abu
dan bau tanah berlari
dengan sepatu letih.

Bandung, 1995


Setiap kali melihat orang meminum Coca Cola, saya merasa, bahwa sebenarnya bukan haus benar yang ingin mereka hapuskan. Saya melihat, mereka meminumnya juga karena ingin memiliki atau merasakan citra amerika di sana. Dalam rasanya, dalam warna rekah merah cairannya, dalam kebanggaan memegang dan meneguk isi botolnya.

Siang itu, saya menyambangi sebuah toko buku di sebuah mall di Bekasi. Di sana saya menemukan antologi puisi Sapardi dan membelinya. Saya hendak bergegas pulang sesudah itu. Tapi hujan di luar, menahan saya untuk tak bisa segera meninggalkan hingar-bingar di dalam mall. Saya memutuskan mencari tempat duduk di lantai satu pusat perbelanjaan itu. Setelah mendapatkannya, saya berdiam diri. Menatap hujan di luar, dari kejauhan, dari keberjarakan hingar di dalam mall.

Orang-orang ramai melintas di dalam mall. Musik begitu keras. Dan saya merasa: betapa terjauhkannya hujan, bau tanah, dan segala keindahannya, dari kami yang berada di dalam mall. Kapitalisme kerap menjauhkan kita dari hal-hal purba, hal-hal alami--seperti hujan dan semua keindahan yang menyertainya. Saya pulang ke Bandung, merasa "terganggu" terus dengan semua kegelisahan itu dan memutuskan untuk menuliskannya.

LABIRIN


dan di sini aku kembali menikung
melepas jejak dalam hilang
untuk memandangmu dalam jarak
agar kau tak bisa menyapaku
dan hanya temukan déjà vu
sobekan wajah yang itu juga.

sebab tak ada yang bisa dikenali
dari keratan masa lalu yang rusak
dan gigil sepi di antara padang dekat
mimpimu ini (meski aku tak pernah
mewujud jadi tokohnya) namun
mengintaimu dari kejauhan
di mana orang tak akan temukan
kereta atau roda ke arahnya: telah kubunuh
semua yang mengantarmu ke arahku.

maka jadilah aku matimu.


1996-1999



Thursday, July 27, 2006

MITOS ITU II

: ibu


kesakitan itu terpasung di sini
dalam ruang bisu yang tak boleh
terbahasakan, juga ruap luka yang
berdarah setiap kali kau ucapkan:
“diam, semuanya akan terselesaikan.”

(tapi ini bahasa telah menanah
menjadi merah. Tak mau berserah.
sebab seperti selalu pada malam itu
diam tetap dalam jaga tak bersudah
meski seseorang seperti siap
menergap dalam gelap.

: izinkan aku melepas teriak
meski ia menjadi lenyap)


Jakarta, 29 April 2002


saya tahu, kita tidak boleh "berteriak" (terlalu) keras: biarkan semuanya lenyap dalam senyap. Biarkan semuanya berjalan seperti yang sudah "dipetakan" oleh dunia seperti adanya dari dulu. Jangan mengubah sesuatu yang bisa membuat "orang banyak" marah. Kita tak selalu punya energi banyak untuk bisa menghadapi badai kemarahan dari "mayoritas", dari sesuatu yang "besar" yang menguasai isi kepala banyak orang. Tapi saya kadang berpikir: tidakkah kita boleh "mempertanyakan" mitos yang kerap mengganggu kita?

MITOS ITU I

sebab perempuan adalah pualam ketika lelap,
sebab ia memantul ambar pada tubuhnya,
sebab ia terbuat dari lemah,
maka kuhujamkan lingga ini hingga
memercik darah.


Jakarta, 14 Januari 2002


Bisakah kita melepaskan diri dari mitos yang sudah tertanam dalam jiwa kita, bahkan jauh hari sebelum kita dilahirkan?

Saturday, July 15, 2006

HANOMAN DI PRAMBANAN
Martin Jankowski

saat Hanoman sang raja kera
diam-diam menyerahkan cincin Rama
Sinta tahu dia akan selamat
dan Rahwana akan kalah

sementara ketujuh anak Hanoman duduk
di depan teve di rumah dan menonton
film kartun jepang sedang istri Rahwana
memasak nasi dengan ikan asin dan suami Sinta
menyopir kijang usangnya sebagai taksi liar dari Yogya

di Prambanan busur-busur emas berkilauan
cinta akhirnya menang dan para penari
membungkuk dengan anggun di hadapan tamu-tamu
untuk foto digital yang penghabisan

membungkuk di hadapan tamu dari belanda
dari jepang perancis dan jerman sebab
orang indonesia hanya menginjak tempat pertunjukkan
mewah di depan candi suci Prambanan
itu sebagai penari atau pelayan

yang lain terlalu mahal


Sepeti halnya Kereta Api Jakarta-Bogor, puisi ini dibacakan Martin pada malam kedua Indonesia International Poetry Festival 2006, 6 Juli 2006, dan saya kutip dari antologi puisi Martin, "Indonesische Sekundenbuch, Detik-Detik Indonesia". Malam itu, kali kedua saya melihat Martin membacakan puisi-puisinya. Pertama kali saya melihat Martin membacakan puisi-puisinya di Jakarta pada tahun 2003 di Goethe Institut. Ketika itu, saya terkesima sekali, ketika Martin membacakan puisi tentang Cicak. Konon, Martin bilang, dia menulis puisi itu karena dia (juga) "terkesima" dengan cicak, mahluk yang tak pernah dia temukan di Jerman, tanah airnya.

Mungkin memang benar seperti kata catatan Goenawan Muhammad di punggung belakang antologi Detik-Detik Indonesia: "Sajak-sajak Martin [...] nada dasarnya bukanlah terpekur, melainkan terpesona, mungkin terbelalak [...]"

Membaca beberapa puisi Martin tentang Indonesia
(melalui terjemahan), tambah GM, "(seolah) membuat kita (ingin) menengok kembali sekitar kita: dari setiap yang 'familiar', ada keasingan yang tak hendak diakui."

Kadang, memang, kita terlalu sulit mengakui kenyataan yang paling nyata di sekitar kita, di sekeliling dunia yang melingkupi kita, di dalam hidup kita. Itu sebabnya, mungkin, kenapa kita terkadang lebih suka menulis atau berbicara tentang hal lain, yang bukan ada kita. Atau, kalaupun kita menuliskan atau membicarakannya, kita (membiasakan diri) membahasakannya dalam "jarak". Memang butuh "kacamata" lain, kadang, bagi kita untuk mau menyadari apa yang sebenarnya ada dalam ada kita.



KERETA API JAKARTA-BOGOR
Martin Jankowski

"Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-
renang sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan."
(Taufik Ismail)


sebuah kereta mendekat dengan gemuruh
berdesakan orang memsuki kotak-kotak mendidih
tatapan mata mereka menjadi bubur
manis yang tumpah ke atas peron

kami mengambil tempat dalam lipatan keramaian
seorang laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak

makin sesak dan panas tapi sekarang datanglah
penjual tas plastik dengan tas plastik
penjual air minum dengan ember berisi es
penyanyi lip-synch dengan pengeras suara
penjual jepit rambut dengan tali digantung jepit rambut
orang yang membacakan ayat-ayat suci
penjual jeruk dengan keranjang
pehentian pertama

laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak

lalu datanglah
pengamen dengan gendang
penjual tahu dengan bungkus-bungkus tahu
penjual air minum dengan ember berisi es
penjual rokok dengan rokok
>>

penjual korek api dengan korek api
lalu penjual air minum datang kembali
perhentian kedua

laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak

kami melihat
ibu-ibu dan nenek-nenek
anak-anak dan kanak-kanak
laki-laki dan kakek-kakek (sedang tidur)
penjual air minum dengan ember berisi es
anak lakilaki dan anak perempuan dan
kondektur yang tak berani
mengontrol tiket
perhentian ketiga

laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak

lalu datanglah
penjual air minum dengan ember berisi es
penjual biskuit dengan biskuit
penjual koran dengan koran
penjual buku tulis dengan buku tulis
penjual permen dengan permen
bencong dengan lagu-lagu disko
penjual koran lekas kembali
perhentian keempat

laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak
>>

kami tak pernah bosan
melihat pengemis
orang tidur
orang berpasangan
kesempitan
jendela
asap
tukang sapu
dan ember berisi es dengan penjual air minum
perhentian kelima

laki-laki tanpa kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak

kami tidur sambil berdiri
dan dalam mimpi kami lihat
penjual tas plastik dengan tas plastik
penjual air minum dengan ember berisi es
penyanyi lip-synch dengan pengeras suara
penjual jepit rambut dengan tali digantung jepit rambut
orang yang membacakan ayat-ayat suci
penjual jeruk dengan keranjang
lalu penjual air minum datang kembali
dan pemuda-pemuda turun dari atap lalu
masuk lewat jendela
perhentian terakhir

dengan patuh kami mengalir keluar dari kotak-kotak mendidih
di atas peron mimpi kami berlnjut
seperti bubur manis orang berdesakan keluar
dan menderas memasuki jalan-jalan kota

laki-laki tanp kaki
merangkak melalui hutan
kaki yang bergerak

Thursday, July 13, 2006


JUST LIKE PEOPLE

Hans Wap


my poems are
just like the city of
Jakarta
12.000.000 people during day-time
8.000.000 at night

during the day my poems exist
of 70 words
say, three hundred and eighty lettertypes

however when the sun has set
on each page
in each poem
only 30 words remain

the other words
sneak out of my poetry collections
leave the bookshelves
on their way to the easy chair
the couch
and my bed

only next morning
when the muezzin
calls for prayer
they return
to their pages
for yet another working day

they are just like people
my poems


Seperti halnya puisi Salted Fish, puisi ini juga dibacakan Hans pada malam terakhir Indonesia International Poetry Festival 2006, 7 Juli 2006 lalu. Puisi ini, kata Hans malam itu sebelum membacakannya, dibuat setelah dia terinspirasi kisah Jakarta yang lebih "sesak" dan penuh kemacetan di siang hari dibandingkan di malam hari. Karena pada malam hari, 4 juta penglaju dari luar Jakarta kembali ke rumahnya. Puisi sederhana yang indah. Terima kasih Pak Hans, karena telah mau mengirimkannya.


SALTED FISH*

Hans Wap


the piece of fish
lying on my plate
was so terribly salty
that when I threw it
back into the river
the other fish believed
they were in the ocean

that way 12 new species of fish
came into excistance

soon
new fish restaurants
will be opened
at the banks of the river Cilliwung

honestly
spoon my eye
cut my throat

I don’t lie


*) dibacakan pada Indonesia International Poetry Festival 2006, 7 Juli 2006, Graha Bhakti Budaya.

Friday, July 07, 2006



SI ANAK HILANG

Saya telah "menemukan"-nya, pada malam 5 Juli 2006:

"Pak Sitor, saya ingin memfoto bapak. Boleh?", tanya saya pelan setengah berbisik ke telinganya.

"Boleh," kata Sitor Situmorang malam itu di kursi deretan paling depan Teater Kecil TIM.

"Tapi pakai kacamata atau jangan?", tambah penyair angkatan 45 yang malam itu diundang untuk membacakan puisi-puisinya di malam pertama International Poetry Festival Indonesia.

"Pakai kacamata juga nggak apa-apa," kata saya.

"Tapi ini kacamata baca," katanya sambil melepas kacamata yang dikenakannya. Sebenarnya saya lebih suka kalau dia mau difoto dengan memakai kacamatanya. Tapi saya tidak ingin memaksa.

"Sebentar. Saya ingin cucu saya duduk dekat saya. Saya ingin orang tahu, saya sudah punya cucu," katanya. Saya membiarkan dua cucu Sitor mendekat ke kursi sang kakek.

Malam itu Sitor membacakan empat puisi. Salah satunya, tentu, puisi yang kemudian seolah menjadi nama lain "khas" untuk Sitor, SI ANAK HILANG:

Pada terik tengah hari
Titik perahu timbul di danau
Ibu cemas ke pantai berlari
Menyambut anak lama ditunggu

Perahu titik menjadi nyata
Pandang berlinang air mata
Anak tiba dari rantau
Sebaik turun dipeluk ibu

Bapak duduk di pusat rumah
Seakan tak acuh menanti
Anak di sisi ibu gundah
-laki-laki layak menanti hati-

Anak duduk disuruh bercerita
Ayam disembelih nasi dimasak
Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beristri sudah beranak?

Si anak hilang kini kembali
Tak seorang dikenalnya lagi
berapa kali panen sudah
Apa saja telah terjadi

Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
Ia lebih hendak bertanya

Selesai makan ketika senja
Ibu menghampiri ingin disapa
Anak memandang ibu bertanya
Ingin tahu dingin Eropa

Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya
Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira

Malam tiba ibu tertidur
Bapa lama sudah menengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang


Tuesday, July 04, 2006


THE DANGLING CONVERSATION

Simon and Garfungkel

It's a still life water color,/Of a now late afternoon,/As the sun shines through the curtained lace/And shadows wash the room./And we sit and drink our coffee/Couched in our indifference,/Like shells upon the shore/You can hear the ocean roar/In the dangling conversation/And the superficial sighs,/The borders of our lives.//

And you read your Emily Dickinson,/And I my Robert Frost,/And we note our place with bookmarkers/That measure what we've lost./Like a poem poorly written/We are verses out of rhythm,/Couplets out of rhyme,/In syncopated time/ Lost in the dangling conversation/And the superficial sighs,/Are the borders of our lives.//

Yes, we speak of things that matter,/With words that must be said,/"Can
analysis be worthwhile?"/"Is the theater really dead?"/Andhow the room is softly faded/And I only kiss your shadow,/I cannot feel your hand,/You're a stranger now unto me/Lost in the dangling conversation./And the superficial sighs,/In the borders of our lives.//

Tema lagu ini, sebenarnya tidak terlalu membuat kita bisa "nyaman" dalam melihat sebuah kedekatan. Tapi ada benarnya, mungkin, bahwa pada momen-momen tertentu kedekatan kadang justru menawarkan keterasingan yang begitu berjarak. Sesekali bolehlah seperti itu. (Atau mungkin memang sesekali harus seperti itu? Agar ada sedikit "warna", barangkali.).

Melihat keterasingan yang kadang muncul dari sebuah kedekatan, barangkali memang merupakan sebuah cara pandang yang mengerikan, patetik, esktrim dan sebagainya. Tapi bukankah sikap patetik dan ekstrim itu juga, yang bisa membuat syair indah dari lagu Simon dan Garfungkel di atas lahir? Lihatlah saripati esensi kegetiran di dalam syair itu. Pasti ia lahir dari kegelisahan yang begitu membuncah pada titik esktrimnya, pada titik yang paling patetiknya.

Sapardi juga pernah menulis keterasingan dari sebuah kedekatan dalam nada yang sama seperti syair lagu Simon dan Garfungkel itu. Saya akan menuliskannya:

Kita berdua saja, duduk/Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput/kau entah memesan apa/Aku memesan batu/di tengah sungai terjal dan deras//Kau entah memesan apa/Tapi kita berdua saja, duduk/Aku memesan rasa sakit yang tak putus/dan nyaring lengkingnya/memesan rasa lapar yang asing itu//(Sapardi Djoko Damono, DI RESTORAN, 1989)

Sesekali menemukan kedekatan dalam keterasingan yang menjauhkan, bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Barangkali semua orang juga pernah mengalaminya. Hanya saja mencoba berdiam-diam. Seolah hal wajar (yang kadang memang menakutkan) itu, tak pernah hadir dalam kehidupan mereka.