Issa (1762-1826) menulis:
A lovely thing to see:
through the paper window's hole,
the Galaxy.
Saya (belajar meniru) menulis:
Sebuah sunyi ada di sini:
pada gedung tinggi di siang hari,
ia melihat hujan sendiri.
"aku berpikir, maka aku ada. di tempat aku berpikir, di situlah aku berada" (jacques lacan) maka gumamku adalah bahasa/yang melebarkan sayapnya/ke setiap penjuru kata/bersiaplah dengan akarnya/agar kau tak tersesat di dalamnya// (Maka Gumamku Adalah Bahasa, 1999)
ada yang terdiam di atas kursi di depan meja makan.
pada tangannya ia menggenggam sebuah gelas
yang menyimpan getar parkinson yang telah meradang.
di ruang tamu dua gelas kopi tersaji, ada yang berbisik
sayup antara kursi-kursi, meja, asbak, pot bunga plastik
dan keramik-keramik sepi di sudut ruangnya: "laki-laki
itu harus segera mati, atau kita yang harus kehilangan
diri. ia tak lagi berguna sebagai manusia. dan lagi, apa
yang telah ia lakukan pada masa sehatnya? ia tak hidup
dengan kita. ia hidup bersama kerja. kita toh manusia.
hidup untuk juga bicara, tidak melulu bekerja. aku tahu
ia bekerja untuk memberi makan kita. tapi ia selalu
kembali ke rumah ini dengan uang dan keasingan.
siapa dia? rasanya kita tak pernah mengenalnya, meski
kau anaknya dan aku istrinya. berapa hari lagi kita
harus merasa asing dengannya? aku rasa ia harus
segara mati."
sebuah gelas yang menyimpan getar parkinson
pada genggaman laki-laki di ruang makan itu
ingin sekali melemparkan dirinya keras-keras
hingga lumat ke depan
HUJAN DI SEBUAH MALL
di luar, ia melihat hujan sepi
dalam mantel abu-abu
dan bau tanah berlari
dengan sepatu letih.
LABIRIN
dan di sini aku kembali menikung
melepas jejak dalam hilang
untuk memandangmu dalam jarak
agar kau tak bisa menyapaku
dan hanya temukan déjà vu
sobekan wajah yang itu juga.
1996-1999
MITOS ITU II
: ibu
kesakitan itu terpasung di sini
dalam ruang bisu yang tak boleh
terbahasakan, juga ruap luka yang
berdarah setiap kali kau ucapkan:
“diam, semuanya akan terselesaikan.”
(tapi ini bahasa telah menanah
menjadi merah. Tak mau berserah.
sebab seperti selalu pada malam itu
diam tetap dalam jaga tak bersudah
meski seseorang seperti siap
menergap dalam gelap.
: izinkan aku melepas teriak
meski ia menjadi lenyap)
sebab perempuan adalah pualam ketika lelap,
sebab ia memantul ambar pada tubuhnya,
sebab ia terbuat dari lemah,
maka kuhujamkan lingga ini hingga
memercik darah.


JUST LIKE PEOPLE
my poems are
just like the city of
12.000.000 people during day-time
8.000.000 at night
of 70 words
say, three hundred and eighty lettertypes
on each page
in each poem
only 30 words remain
sneak out of my poetry collections
leave the bookshelves
on their way to the easy chair
the couch
and my bed
when the muezzin
calls for prayer
they return
to their pages
for yet another working day
my poems
Seperti halnya puisi Salted Fish, puisi ini juga dibacakan Hans pada malam terakhir Indonesia International Poetry Festival 2006, 7 Juli 2006 lalu. Puisi ini, kata Hans malam itu sebelum membacakannya, dibuat setelah dia terinspirasi kisah Jakarta yang lebih "sesak" dan penuh kemacetan di siang hari dibandingkan di malam hari. Karena pada malam hari, 4 juta penglaju dari luar Jakarta kembali ke rumahnya. Puisi sederhana yang indah. Terima kasih Pak Hans, karena telah mau mengirimkannya.

SALTED FISH*
Hans Wap
the piece of fish
lying on my plate
was so terribly salty
that when I threw it
back into the river
the other fish believed
they were in the ocean
came into excistance
new fish restaurants
will be opened
at the banks of the river Cilliwung
spoon my eye
cut my throat

THE DANGLING CONVERSATION
Simon and Garfungkel
It's a still life water color,/Of a now late afternoon,/As the sun shines through the curtained lace/And shadows wash the room./And we sit and drink our coffee/Couched in our indifference,/Like shells upon the shore/You can hear the ocean roar/In the dangling conversation/And the superficial sighs,/The borders of our lives.//
analysis be worthwhile?"/"Is the theater really dead?"/Andhow the room is softly faded/And I only kiss your shadow,/I cannot feel your hand,/You're a stranger now unto me/Lost in the dangling conversation./And the superficial sighs,/In the borders of our lives.//