CARA-CARA MELAWAN KEKUASAAN*
Ketika Tuan Keuner, sang Pemikir, berpidato menentang kekuasaan di sebuah aula di hadapan orang banyak, dia merasakan bagaimana orang-orang mundur dan pergi. Dia menoleh dan melihat di belakangnya (ternyata ada) Sang Kekuasaan.
"Apa yang kau katakan?" tanya Sang Kekuasaan padanya.
"Saya mendukung kekuasaan," jawab Tuan Keuner.
Ketika Tuan Keuner berlalu, murid-muridnya bertanya tentang pendiriannya. Tuan Keuner menjawab, "Saya tidak punya pendirian yang bisa dihancurkan. Saya (hanya) harus hidup lebih lama dari kekuasaan."
Dan Tuan Keuner menceritakan kisah sebagai berikut:
Ke rumah Tuan Egge, yang telah belajar untuk berkata "tidak", pada suatu hari dalam jaman di mana tak ada kejelasan hukum, datang seorang Agen. Dia menunjukkan sebuah surat resmi yang dikeluarkan oleh penguasa kota, dan dalam surat itu tertulis, bahwa dia harus menguasai setiap tempat tinggal yang didatanginya; dia juga harus menguasai setiap makanan yang dituntutnya; dia juga harus dilayani oleh orang yang dilihatnya.
Agen itu duduk di sebuah kursi, menuntut makanan, mandi, berbaring, dan bertanya sebelum tidur dengan muka menghadap tembok: "Maukah kau melayani saya?"
Tuan Egge menyelimutinya, mengusir lalat, menjaga tidurnya, dan sejak hari itu dia tunduk pada si Agen selama tujuh tahun. Akan tetapi di antara semua yang selalu dia kerjakan untuk si Agen, ada satu hal yang dengan sangat hati-hati tdak dia lakukan--yaitu untuk tidak mengatakan satu kata. Ketika tujuh tahun berlalu dan si Agen menjadi gemuk karena banyak makan, tidur, dan memerintah, matilah si Agen. Tuan Egge menggulungnya dengan selimut kotor, menyeretnya keluar rumah, mencuci tempat tidur, mengapur tembok, menghela napas dan menjawab, "Tidak."
*) Bertolt Brecht. Diterjemahkan oleh Dewi Noviani, dari Geschichten vom Herrn Keuner. Dikutip dari Buletin GSSTF, Edisi 6, 24 September-7 Oktober 1995, hlm 2.
****
Geschichten vom Herrn Keuner, juga dikenal dengan nama "Geschichten vom Herrn K." atau Kisah-Kisah Tuan K, merupakan cerita-cerita pendek (dalam istilah redaksi Buletin GSSTF, cerita pendek "yang pendek"), yang ditulis Bertolt Brecht dengan rentang waktu kepenulisan sekitar 30 tahun. Kisah tentang tokoh fiktif Tuan Keuner yang pemikirannya kerap
nyeleneh sekaligus "mengganggu" logika ini, pertama kali ditulis Brecht pada tahun 1926--di mana proses kreatifnya berhubungan dengan proses kreatif penulisan naskah drama Brecht yang berjudul
Fatzer.
Sederhananya, Brecht menggambarkan karakter Tuan Keuner (Tuan K) sebagai sosok komentator kritis dalam setiap lakuan yang mengikuti kisahnya. Sesuai arti kata "Keuner" (semacam pelesetan dari kata "Keiner", tak seorang pun, bukan siapapun), Tuan K adalah bahasa lain dari Tuan Tak Seorangpun--atau dalam kosakata Indonesia kerap dikenal sebagai "Si Pulan". Pilihan nama karakter tokoh fiktif, yang menawarkan sebentuk anonimitas.
Bisa jadi, dalam tafsir yang luas, pilihan nama tokoh fiktif tersebut sengaja dipilih Brecht untuk menghindarkan diri dari "omelan" orang-orang yang (bisa jadi) merasa dikritisi lewat lakuan atau cara pandang Tuan K. Maklum saja, hampir kesemua lakuan dan cara pandang Tuan K dalam Geschichten vom Herrn K adalah sebentuk metafora "pedang-pena" pedas dan tajam Brecht, terhadap lingkaran sosial-budaya-politik yang hadir di hadapannya selama rentang 30 tahun periode penulisan karya-karya tersebut.
Secara keseluruhan kisah tentang Tuan K terdiri dari 87 cerita. Sebenarnya, konon, Brecht tidak pernah berencana menerbitkan kisah-kisah Tuan K ini. Sebab kisah Tuan K, pada dasarnya ditulis selalu dalam kaitannya dengan proses kreatif penyelesaian karya-karya Brecht lainnya. Atau mungkin, bahasa sederhananya: Kisah Tuan K, bukanlah karya-karya yang ditulis dengan "diniatkan". Sebab kisah-kisah Tuan K selalu hadir menjadi semacam "pencarian lain", yang mengiringi semua eksperimental proses kreatif sastrawan yang lahir tanggal 10 Februari 1898 ini dalam menuliskan karya-karya lainnya--baik esei, naskah drama maupun puisi.
Namun di kemudian hari, kumpulan cerita Tuan K ini akhirnya diterbitkan dalam tujuh buku kecil (
Hefte). Seri ke delapan kisah Tuan K pada tahun 1933, tidak lagi dicetak. Awalnya kisah Tuan Keuner, tidak pernah mendapat tanggapan atau "diterima" oleh dunia kritik sastra Jerman. Hanya Walter Benjamin (1892-1940, kritikus sastra dan filsuf Marxis Jerman), yang mau menuliskan kritik mengenai kisah-kisah Tuan K. Tapi pada tahun 1948 terbitlah
Kalendergeschichten (Kisah-kisah yang dipublikasikan dalam kalender) karya Brecht, di mana di dalamnya terdapat 39 kisah Tuan K. Sejak itu dan setelah Brecht wafat pada tahun 1956, kisah-kisah Tuan K kemudian makin kerap diterbitkan.
Dengan semua sejarah seting waktu proses kreatif penulisan Kisah Tuan K dari Brecht di atas, malam ini, saya terus berpikir:
kalau Tuan Egge, menurut cerita Tuan K, butuh waktu tujuh tahun untuk mengatakan "Tidak". Kita butuh waktu berapa lama untuk mengatakan "tidak" pada "kekuasaan" (dalam pengertian yang luas) yang mengukung kebebasan kita pada jaman, yang konon sudah sangat menjunjung demokrasi dan tak lagi memiliki batas (sehingga orang menjadi lebih "bebas" dalam melakukan pilihan) seperti sekarang ini?