Aku lah Si Telaga

Name: taty haryati

"aku berpikir, maka aku ada. di tempat aku berpikir, di situlah aku berada" (jacques lacan) maka gumamku adalah bahasa/yang melebarkan sayapnya/ke setiap penjuru kata/bersiaplah dengan akarnya/agar kau tak tersesat di dalamnya// (Maka Gumamku Adalah Bahasa, 1999)

Saturday, August 26, 2006

WORDS DON'T KILL US, MAKE US STRONGER

KITA KIRIM DUKA INI

:dina

kita kirim duka ini
ke alamat tak seorang pun
duka yang ditanam tuhan
dan tak terpahami perihnya
hingga jejaknya tanggal
menetes kental di jalan;

sebab hidup adalah pencarian
(seperti yang selalu dimitoskan)
sebab memang kita tahu
pada akhirnya, seperti malam itu
(saat kita menanam langkah
sambil melepas satu-satu
sobekan peta jalan menuju rumah)
bahwa tak semua pintu terbuka
untuk kita.


1998

Saturday, August 19, 2006

BELAJAR (MENULIS) "TERANG" II
--
Melukis Dengan Kata, Melepas Makna Ke Udara--

Autumn Evening

None is traveling
Here along this way but I,
This autumn evening.

--Bashô (
1644-1694)


Spring Rain


In the rains of spring,
An umbrella and raincoat
Pass by, conversing.

--Buson (1716-1784)


***

Ah, betapa menakjubkannya! Lihatlah, betapa dua master Haiku di atas, mengurai bahwa keindahan dan ketajaman makna itu datang dari kesederhanaan yang melarutkan. Kedua karya itu saya kutip masing-masing dari halaman 186 dan 190 buku Kenneth Yasuda, "The Japanese Haiku; Its Essential Nature, History And Possibelities In English" (Tuttle, edisi ke 14, tahun 2000).

Buku itu sebenarnya disertasi Yasuda saat menyelesaikan studi doktoralnya di Tokyo University pada tahun 1955. Judul asli disertasi Yasuda sendiri adalah "On The Essential Nature and Poetic Intent of Haiku". Sedari awal uraiannya mengenai Haiku, Yasuda membandingkan haiku dengan keindahan dan "misteri" lukisan tinta Cina. Ia menuliskan:

[...] I shall begin then by comparing haiku to painting. Each time I look at an old painting on rich silk by a Chinese master of the T'ang Dynasty--especially one of the monochromes in Chinese ink, mo, by such a painter as Wang Wei or some later master of the Sung periode--I am left speechless, my breath taken away in admiration. The effect of the picture, in black and white and with subtle gradations from white to black, is one of mysticism and extreme delicacy. Unlike an oil painting, this fills the space without filling it; [...] (hlm, 3, cetak tebal dari saya).

Bagaimana bisa "mengisi ruang, tanpa mengisi-nya"? Dalam tafsir saya yang baru belajar (mencoba) mengenal tradisi puitik yang "akarnya" sudah mulai tumbuh di Jepang sejak sekitar abad 15 ini, (barangkali) itulah justru kelebihan dan "misteri" haiku--sebagai tehnik menulis-berpikir dan memandang yang merepresentasikan filosofi kedalaman Zen dalam menyadari-memahami dan "mengalami" jiwa benda-benda ke titik paling intinya.

Tak heran jika kemudian dalam haiku, menurut tafsir saya, benda-benda (semua hal) terjelaskan dalam kejelasan yang paling jernihnya. Namun pada saat yang bersamaan, kejelasan itu juga menguap ke dalam keabtstrakan yang menawarkan sebentuk "klimaks" pemahaman yang sulit dibahasakan. Sehingga setiap kali membaca haiku (setidaknya bagi saya), yang tersisa hanyalah gumam: "aha, saya telah menangkap ekstase (dalam lenyap) itu !!"

Di kata pengantar bukunya, Yasuda mengutip Isoji Asô yang mencoba menerjemahkan "jiwa" haiku:

[...] "What governs such an art [as that of haiku] is not a concept or logic, feeling or rationalism... Even if we find an idea in it, that idea is something diffussed throughout the entirety of the art product, like the air." [...] (hlm, XIX).

Yasuda juga menambahkan,

[...] A successful haiku renders then a speaking, vibrant image. [...] (hlm, XIX).

Itu sebabnya, bagi saya, belajar mengenal haiku adalah belajar melihat para master haiku
melukis dengan kata, sambil pada saat yang bersamaan, juga melepas makna (yang terus menggema) ke udara. Betapa indahnya!!


Friday, August 18, 2006

KETIKA TUAN K MENCINTAI SESEORANG*

"Apa yang Anda lakukan," tuan K ditanya, "jika Anda mencintai seseorang?" "Saya akan membuat konsep dari dia," kata Tuan K., "dan berusaha membuat, dia mirip dengannya." "Siapa? Konsepnya (yang mirip dengan orangnya--red)?" "Bukan," kata Tuan K, "orangnya."

*) "Wenn Herr K. einen Menschen liebte", dari Geschichten vom Herrn Keuner, dalam Kalendergescichten, Bertolt Brecht, Rowohlt, 1960, hlm 129-130.


***

Ketika kita mencintai seseorang, konon, kita selalu punya kecenderungan untuk "membentuk" orang yang kita cintai sesuai dengan isi kepala kita. Kita tidak perlu berdebat soal ini, sebaiknya.. :-). Nanti seperti Brower pernah tuliskan dalam sebuah eseinya, pada saat atmosfir sebuah percakapan mulai "menajam": "Rasanya kita sedang meluncur di lapangan es yang licin dan berbahaya". Jadi baiknya, kita nikmati saja "sentilan" Tuan K di atas, sebagai satu hal yang bisa membuat kita tertawa kecil sambil berpikir ulang: benarkah?.

PERTANYAAN, APAKAH TUHAN ITU ADA*

Seseorang bertanya kepada Tuan K, apakah Tuhan itu ada. Tuan K berkata: "Saya menyarankan kepada kamu, untuk merenungkan, apakah sikapmu akan berubah atau tidak atas setiap jawaban dari pertanyaan itu. Jika sikapmu tidak akan berubah, maka barulah kita dapat membiarkan pertanyaan itu (hadir). Tapi jika sikapmu akan berubah, maka saya hanya bisa membantumu lebih jauh dengan mengatakan kepada kamu, bahwa kamu telah memutuskan: Kamu membutuhkan Tuhan".

*) "Die Frage, ob es einen Gott gibt", dari Geschichten vom Herrn Keuner, dalam Kalendergescichten, Bertolt Brecht, Rowohlt, 1960, hlm 128.

***

Mudah-mudahan, ini bisa menjawab perdebatan kita tempo hari. Dan kamu mulai menimbang-nimbang kembali isi sms-mu ini: "Saya belum bisa menjawabnya."

Thursday, August 17, 2006

MENIMBANG "DUA TUBUH" PAZ

Two Bodies

Octavio Paz

Two bodies face to face
are at times two waves
and night is an ocean.

Two bodies face to face
are at times two stones
and night a desert.

Two bodies face to face
are at times two roots
laced into night.

Two bodies face to face
are at times two knives
and night strikes sparks.

Two bodies face to face
are two stars falling
in an empty sky.

***

Di atas adalah versi puisi Oktavio Paz, yang kamu kirim via sms dan email ke saya lima hari lalu. Saya tidak tahu, kamu mengutipnya dari buku atau website mana. Yang jelas, kamu hanya kasih keterangan, bahwa konon puisi ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sapardi Djoko Damono. Tapi beberapa hari yang lalu, saya iseng surfing di google. Dan mendapatkan versi lain dari puisi Paz yang sama. Ini kutipannya:

Two Bodies
Octavio Paz

Two bodies face to face
Are at times two waves
And the night is an ocean.

Two bodies face to face
Are sometimes two stones
And the night a desert.

Two bodies face to face
Are at times two roots
Intertwined in the night.

Two bodies face to face
Are sometimes two stilettos
And night lightening sparks.

Two bodies face to face
Are two stars who are falling
In a naked sky.


Saya lupa, kutipan itu saya ambil dari website apa. Tapi lihat, ada beberapa kata dalam bait puisi Paz di atas yang ditulis (diterjemahkan) dengan pilihan diksi berbeda dibandingkan dengan versi yang kamu kirimkan ke saya. Dengan begitu tentu saja, sedikit banyak, kekuatan imaji yang diusung tiap-tiap kata-kalimat-baris dan bait puisi dari "Two Bodies" Paz di atas, hadir dalam nuansa yang "berbeda" dari versi yang kamu kirimkan.

Suatu kali sastrawan-diplomat dan peraih nobel sastra asal Meksiko yang lahir pada 31 Maret 1914 itu mengatakan:

[...] Sajak adalah suatu totalitas pekat-kental, dan perubahan paling kecil pun sudah mengubah keseluruhan komposisi. Oleh alasan ini, sajak tidak dapat diterjemahkan (sic!): di luar sajak itu tak ada apa pun kecuali bahana (noise) atau sunyi; suatu ketiadaartian (senselessness) atau suatu arti yang tidak ternamakan dengan kata. [...] (Paz, Octavio. 1997. "Levi Strauss; Empu Antropologi Struktural". LKiS. Yogyakarta. hl 42).

Membaca kalimat-kalimat Paz di atas, saya menilai, sekilas Paz mungkin seperti halnya Kundera: tipikal penulis yang agak "rewel" dan perfeksionis dalam hal "menerima" terjemahan karya-karyanya. Saya bertanya dalam hati: apa yang ada di benak sastrawan yang wafat pada 19 April 1998 itu, kalau dia sempat membaca dua versi terjemahan "Two Bodies" di atas? Menurutmu bagaimana?


Tuesday, August 08, 2006

CARA-CARA MELAWAN KEKUASAAN*

Ketika Tuan Keuner, sang Pemikir, berpidato menentang kekuasaan di sebuah aula di hadapan orang banyak, dia merasakan bagaimana orang-orang mundur dan pergi. Dia menoleh dan melihat di belakangnya (ternyata ada) Sang Kekuasaan.

"Apa yang kau katakan?" tanya Sang Kekuasaan padanya.

"Saya mendukung kekuasaan," jawab Tuan Keuner.

Ketika Tuan Keuner berlalu, murid-muridnya bertanya tentang pendiriannya. Tuan Keuner menjawab, "Saya tidak punya pendirian yang bisa dihancurkan. Saya (hanya) harus hidup lebih lama dari kekuasaan."

Dan Tuan Keuner menceritakan kisah sebagai berikut:

Ke rumah Tuan Egge, yang telah belajar untuk berkata "tidak", pada suatu hari dalam jaman di mana tak ada kejelasan hukum, datang seorang Agen. Dia menunjukkan sebuah surat resmi yang dikeluarkan oleh penguasa kota, dan dalam surat itu tertulis, bahwa dia harus menguasai setiap tempat tinggal yang didatanginya; dia juga harus menguasai setiap makanan yang dituntutnya; dia juga harus dilayani oleh orang yang dilihatnya.

Agen itu duduk di sebuah kursi, menuntut makanan, mandi, berbaring, dan bertanya sebelum tidur dengan muka menghadap tembok: "Maukah kau melayani saya?"

Tuan Egge menyelimutinya, mengusir lalat, menjaga tidurnya, dan sejak hari itu dia tunduk pada si Agen selama tujuh tahun. Akan tetapi di antara semua yang selalu dia kerjakan untuk si Agen, ada satu hal yang dengan sangat hati-hati tdak dia lakukan--yaitu untuk tidak mengatakan satu kata. Ketika tujuh tahun berlalu dan si Agen menjadi gemuk karena banyak makan, tidur, dan memerintah, matilah si Agen. Tuan Egge menggulungnya dengan selimut kotor, menyeretnya keluar rumah, mencuci tempat tidur, mengapur tembok, menghela napas dan menjawab, "Tidak."


*) Bertolt Brecht. Diterjemahkan oleh Dewi Noviani, dari Geschichten vom Herrn Keuner. Dikutip dari Buletin GSSTF, Edisi 6, 24 September-7 Oktober 1995, hlm 2.


****

Geschichten vom Herrn Keuner, juga dikenal dengan nama "Geschichten vom Herrn K." atau Kisah-Kisah Tuan K, merupakan cerita-cerita pendek (dalam istilah redaksi Buletin GSSTF, cerita pendek "yang pendek"), yang ditulis Bertolt Brecht dengan rentang waktu kepenulisan sekitar 30 tahun. Kisah tentang tokoh fiktif Tuan Keuner yang pemikirannya kerap nyeleneh sekaligus "mengganggu" logika ini, pertama kali ditulis Brecht pada tahun 1926--di mana proses kreatifnya berhubungan dengan proses kreatif penulisan naskah drama Brecht yang berjudul Fatzer.

Sederhananya, Brecht menggambarkan karakter Tuan Keuner (Tuan K) sebagai sosok komentator kritis dalam setiap lakuan yang mengikuti kisahnya. Sesuai arti kata "Keuner" (semacam pelesetan dari kata "Keiner", tak seorang pun, bukan siapapun), Tuan K adalah bahasa lain dari Tuan Tak Seorangpun--atau dalam kosakata Indonesia kerap dikenal sebagai "Si Pulan". Pilihan nama karakter tokoh fiktif, yang menawarkan sebentuk anonimitas.

Bisa jadi, dalam tafsir yang luas, pilihan nama tokoh fiktif tersebut sengaja dipilih Brecht untuk menghindarkan diri dari "omelan" orang-orang yang (bisa jadi) merasa dikritisi lewat lakuan atau cara pandang Tuan K. Maklum saja, hampir kesemua lakuan dan cara pandang Tuan K dalam Geschichten vom Herrn K adalah sebentuk metafora "pedang-pena" pedas dan tajam Brecht, terhadap lingkaran sosial-budaya-politik yang hadir di hadapannya selama rentang 30 tahun periode penulisan karya-karya tersebut.

Secara keseluruhan kisah tentang Tuan K terdiri dari 87 cerita. Sebenarnya, konon, Brecht tidak pernah berencana menerbitkan kisah-kisah Tuan K ini. Sebab kisah Tuan K, pada dasarnya ditulis selalu dalam kaitannya dengan proses kreatif penyelesaian karya-karya Brecht lainnya. Atau mungkin, bahasa sederhananya: Kisah Tuan K, bukanlah karya-karya yang ditulis dengan "diniatkan". Sebab kisah-kisah Tuan K selalu hadir menjadi semacam "pencarian lain", yang mengiringi semua eksperimental proses kreatif sastrawan yang lahir tanggal 10 Februari 1898 ini dalam menuliskan karya-karya lainnya--baik esei, naskah drama maupun puisi.

Namun di kemudian hari, kumpulan cerita Tuan K ini akhirnya diterbitkan dalam tujuh buku kecil (Hefte). Seri ke delapan kisah Tuan K pada tahun 1933, tidak lagi dicetak. Awalnya kisah Tuan Keuner, tidak pernah mendapat tanggapan atau "diterima" oleh dunia kritik sastra Jerman. Hanya Walter Benjamin (1892-1940, kritikus sastra dan filsuf Marxis Jerman), yang mau menuliskan kritik mengenai kisah-kisah Tuan K. Tapi pada tahun 1948 terbitlah Kalendergeschichten (Kisah-kisah yang dipublikasikan dalam kalender) karya Brecht, di mana di dalamnya terdapat 39 kisah Tuan K. Sejak itu dan setelah Brecht wafat pada tahun 1956, kisah-kisah Tuan K kemudian makin kerap diterbitkan.

Dengan semua sejarah seting waktu proses kreatif penulisan Kisah Tuan K dari Brecht di atas, malam ini, saya terus berpikir: kalau Tuan Egge, menurut cerita Tuan K, butuh waktu tujuh tahun untuk mengatakan "Tidak". Kita butuh waktu berapa lama untuk mengatakan "tidak" pada "kekuasaan" (dalam pengertian yang luas) yang mengukung kebebasan kita pada jaman, yang konon sudah sangat menjunjung demokrasi dan tak lagi memiliki batas (sehingga orang menjadi lebih "bebas" dalam melakukan pilihan) seperti sekarang ini?


Sunday, August 06, 2006

MOON OVER BOURBON STREET
Sting

There's a moon over bourbon street tonight
I see faces as they pass beneath the pale lamplight
I've no choice but to follow that call
The bright lights, the people, and the moon and all
I pray everyday to be strong
For I know what I do must be wrong
Oh you'll never see my shade or hear the sound of my feet
While theres a moon over bourbon street

It was many years ago that I became what I am
I was trapped in this life like an innocent lamb
Now I can only show my face at noon
And you'll only see me walking by the light of the moon
The brim of my hat hides the eye of a beast
I've the face of a sinner but the hands of a priest
Oh you'll never see my shade or hear the sound of my feet
While there's a moon over bourbon street


She walks everyday through the streets of new orleans
She's innocent and young from a family of means
I have stood many times outside her window at night
To struggle with my instinct in the pale moon light
How could I be this way when I pray to God above
I must love what I destroy and destroy the thing I love
Oh you'll never see my shade or hear the sound of my feet
While there's a moon over bourbon street

***

saya masih mendengar lolongan serigala itu
lamat-lamat, kemudian menghilang, ke kejauhan.
tenggelam bersama kelam kisah si bayangan,
yang menghilang dalam gelap malam.



Saturday, August 05, 2006

TERBELO BAGI CINTAKU*
Sahruni Hasna Ramadhan

Kondominium, mimpi Jakarta
pecah di kepala setiap penghuni
yang hangus dibakar panas terkutuk
lima jam perjalanan kita.

Ada juga wajah bapak meraung-raung
memuja peradaban, etalase-etalase. Lalu
melumuri roti sarapan pagi dengan sumpah
mencuci mulut dengan cinta anak, cucu
konon jadi malin kundang.

Diam-diam kepalaku bernanah
mengalir ke sela-sela jantung.
Cintakupun talkin sesaat,
ke mana hannah bagi pelaminan kita atau
hanya tempat perempuan muda
membasuh tubuh dengan darah?
"Nonsense" rintihku bercampur aspal dan
bau reklame.

Diam-diam Jakarta jadi mimpi
pecah di tangan bapak.


*) dikutip dari Buletin GSSTF, Edisi 6, 24 September-7 Oktober 1995.


Dear Runi, sore tadi saya membuka-buka rak buku dan menemukan salah satu Buletin GSSTF yang memuat puisi lamamu. Hicks! Jadi inget jadul (jaman dulu), waktu kita masih "sinting": nongkrong, begadang sampai dini hari, ngobrol ngalor ngidul nggak jelas soal hidup-sastra, teater, dst... :-) Ha ha ha! Jadul banget deh kita... :-)

Friday, August 04, 2006

SEBAB AKU ADALAH GERAK


paying for something that you never even did
victim of the time gone by*


maka aku mencoba belajar memahami
waktu yang melarut ini bukan sebagai
dosa yang harus kutebus sepanjang
jejak hidupku yang berdesakan menarikku
ke kutub di mana aku seolah menjelma
ruang stagnan yang tak terbaca seorang pun;


sebab aku adalah gerak.


1998

*) dikutip dari lagu Joan Baez, Still Cross The Border.

KITA

ueberhaupt hat der Fortschritt das an sich, dass
er viel groess
er ausschaut, als er wirklich ist. *


mungkin kita hanya di situ
memutari sumbu serupa gasing
yang berpusing sendiri dalam desing
putarannya, seperti kafka pernah
mensketsakannya; adalah retorika
bahasa kefilsufan yang menelikung
ada kita.


1998

*) Pada umumnya kemajuan memandang dirinya sendiri lebih besar dari keadaan yang sebenarnya. (Wittgenstein, Ludwig. dikutip dari Ludwig-Arnold, Heiz dan Detering, Heinrich (ed.). 1997.Grundzüge der Literaturwissenschaft. DTV. München. hlm.14 ).