Aku lah Si Telaga

Name: taty haryati

"aku berpikir, maka aku ada. di tempat aku berpikir, di situlah aku berada" (jacques lacan) maka gumamku adalah bahasa/yang melebarkan sayapnya/ke setiap penjuru kata/bersiaplah dengan akarnya/agar kau tak tersesat di dalamnya// (Maka Gumamku Adalah Bahasa, 1999)

Saturday, October 21, 2006

SEPOTONG INGATAN JEJAK HARI


I was trapted in this live
like an innocent lamb*


konon, ingatan adalah misteri.
itu sebabnya setiap kita bangun pagi
setengah dari ilusi menerkam jadwal hari.


2006



*)Moon Over Bourbon Street, Sting.

PERTEMUAN DI MEJA ITU


pertemuan di meja itu adalah bahasa yang kita coba rangkum dalam
kedekatan masa lalu yang bertebaran pada peta rumah yang terpisah.

bergelas-gelas kenangan akan jalan yang mengingatkan kita pada pematang ada kita ketika kanak coba kita tuangkan pada kehausan
percakapan yang tak menawarkan kejelasan arah itu;

“sebab kita hanya menunggu waktu”, katamu, sambil berharap ada seseorang atau teman lain yang berbaik hati menghampiri ruang bicara di siang berangin itu untuk sekedar memperlarat percakapan yang memang tak bertuju pintu.

tapi kita tahu, tak akan ada yang pernah datang menyambut ketidakpastian. atau sekedar mampir menyapa kejenuhan sebuah pertemuan. hidup adalah gegas yang selalu mesti terjadwal dan tak pernah memberi ruang pada sesuatu yang mengambang.

“mestikah kita menunggu?,” katamu menjadi ragu. aku hanya mengangkat bahu (seperti itu selalu) sambil menahan demam yang sempat kucatatkan pada seorang teman di atas kertas yang menawarkan birunya memar ingatan akan rumah ibuku.


1999-2006

GERIMIS MENGAMBANG

gerimis itu mengambang pada sebuah puisi
guntingan tetesnya menghambat kata
jadi senyap dalam diam dari cakap.

tapi getar itu merambat dari setiap sudut meja marmer
dan mengapung bersama ruap secangkir coklat panas
yang mengekalkan catatan akan sebuah ingatan

: keindahan dari tiap pertemuan
yang mengantar kita pada kekal

semoga.


2002

Friday, October 13, 2006

DORF
Subagio Sastrowardoyo


Wenn Ich aus dem Land geh, Bruder
So weil die Luft hier drückend ist von
Erstarrten Gedanken.

Leben in diesem Land ist wie im Dorf
Wo jedermann Regeln machen möchte
Betreffs Verkehr in Gassen, Nachtwache und
Einschreibung im Bezirk.

Wo jedermann mitreden möchte
Und zu Moral, Politik und Religion beraten
Als Probleme die man meistert.

Wo jedermann Richter werden möchte
Und herfallen über Foxtrot tanzende Familie, über Fremde
Und den einzelnen Bürger.

Wo der Quacksalber warm empfangen wird,
Mit Achtung und Freude.

Wo Gerede auf der Straße mehr wert ist
Als ruhiges Denken im Raum.

Wo Argwohn tiefer reicht als Liebe und Glaube

Wenn Ich aus dem Land geh, Bruder
Dann weil Ich Freiheit will und mich selbst finden.


*) diambil dari Wirf Dies Wort!, Subagio Sastrowardoyo, 1992, Horlemann, Bad Honef, Hlm 108.

Wednesday, October 11, 2006

NIKMAT TUHAN

maka nikmat Tuhanmu yang manakah, yang kamu ingkari?

(Arrahman, QS.55)

***

Saat Ramadhan seperti sekarang ini, bertemu teman lama adalah kenikmatan tambahan yang menyenangkan.

Lupa. Sudah berapa lama ya, saya nggak bertemu Insan? Lama sekali rasanya. Tapi saya dan Insan sepakat, kami terakhir bertemu pada waktu pernikahan Cokel, mungkin sekitar tahun 2001-an. Mungkin.. :-) Akhirnya kemarin saya berkesempatan untuk bertemu dengan Insan, karena deep blue ocean saya sedang "bermasalah".

Dua hari sebelumnya, saya sms Insan minta tolong untuk memeriksanya (dan sekalian "mengobati"-nya.. :-)). Insan bersedia. Jadilah, kemarin kami bertemu di kantor Insan. Senang rasanya. Selain karena deep blue ocean saya jadi "sembuh", juga karena bisa ngobrol dan ketemu Insan langsung.

kelihatannya masih Insan yang lebih suka dengan "kesendirian", eksistensialis tulen... :-) (ini sekedar "impresi" dari keberjarakan loh.. :-)).

Malamnya, Aya, istri Insan, menelpon. Kami ngobrol sebentar, bersapa: betapa sudah lamanya kami tidak pernah bertemu atau ngobrol, sekedar menyapa "hai".. :-) Saya semakin merasa: well, nikmat tuhan mana lagi yang mesti saya ingkari? hidup ini begitu indah dan penuh makna.. :-)

Sunday, October 08, 2006

THE FUTURE OF POETRY
Martin Jankowski

silence please
the poets are talking
the poets are talking inside
the poets are talking inside the building
please silence they are talking about the future of poetry

silence please
the poets are worried
the poets are worried a lot
the poets are worried about poetry
the poets are worried about the future of poetry
but the truth is they are worried about the future of the poets

outside the building no silence at all
the traffic runs through the streets with a roaring
a taxi driver is buying flowers for his girl
an old woman is saying a prayer
a grey bird is praising the sun
and the young man at the sidewalk
is loudly singing his favoured pop song

may be I am not a poet
but I am not worried about the future
of poetry


(Jakarta, 5. Juli 2006. dikutip dari www.martin-jankowski.de)


***

tak ada yang perlu kita khawatirkan. begitu juga dengan masa depan puisi, atau apapun (barangkali). mengalir saja. mungkin itu yang terbaik, untuk semuanya... :-)