Aku lah Si Telaga

Name: taty haryati

"aku berpikir, maka aku ada. di tempat aku berpikir, di situlah aku berada" (jacques lacan) maka gumamku adalah bahasa/yang melebarkan sayapnya/ke setiap penjuru kata/bersiaplah dengan akarnya/agar kau tak tersesat di dalamnya// (Maka Gumamku Adalah Bahasa, 1999)

Sunday, December 17, 2006




GEGAS

Monday, December 04, 2006

BARA

Sebut saja namanya Bara. Usianya belum genap tiga puluh tahun. Suatu kali dalam jejak hidupnya, ia berkenalan dengan seorang laki-laki yang kemudian menjadi kekasihnya. Dari pria ini, kata gadis yang terlihat kenes dengan jeans dan kaus biru tua ketat berlengan sesiku ini, ia mengenal dunia seks bebas. Ia menikmati kehidupan barunya itu selama beberapa tahun: menjelajahi tubuh setiap laki-laki yang memikat hatinya. Hingga akhirnya, pada suatu hari, ia tersadar telah tertular HIV/AIDS.

Bara tak pernah tahu, dari laki-laki ke berapa yang ditidurinya ia mendapatkan penyakit yang mematikan itu. Ia hanya ingat, bagaimana tiba-tiba dunia menjadi begitu memusuhinya setelah mereka tahu ia mengidap HIV/AIDS. Tak seorang pun yang mau membuka pintu untuk dirinya. Termasuk juga keluarganya. Dalam ‘terusir’ Bara memendam amarah. Ia ingin melepaskan dendamnya, terutama pada laki-laki.

“Suatu hari saya sengaja datang ke sebuah club malam. Di sana saya sengaja TP (tebar pesona) ke beberapa laki-laki. Lalu saya mengajak mereka berhubungan badan. Tanpa pengaman. Berkali-kali. Sampai saya yakin, saya sudah menularkan HIV/AIDS ke mereka,” katanya dalam getar.

Penggalan kalimat Bara di atas, membuat saya merinding ketika menyimaknya. Bara memang kemudian menjelaskan telah sadar untuk tak melakukan hal itu lagi dan kini justru telah menjadi relawan penanggulangan HIV/AIDS. Tapi sampai hari ini setiap kali teringat penggalan kisah itu, saya (tetap) masih selalu terpekur sendiri.

Kisah Bara hanyalah satu dari 10 kisah lain, yang saya temui pada peringatan hari HIV/AIDS yang digelar oleh PMI pada hari Minggu lalu. Hari itu saya, Dr Lita dari PMI dan satu ODHA (Namanya sengaja tidak saya sebutkan. Karena takut dia keberatan) diminta untuk menjadi juri lomba storytelling di acara, yang antara lain dihadiri oleh puluhan siswa SD-SMP dan SMA itu.

Sudah banyak memang, cerita duka tentang penderita HIV/AIDS yang dihadirkan di hadapan kita. Terutama persoalan diskriminasi yang mereka hadapi. Dan barangkali, sebagian orang (karena satu-dua hal) sudah mulai merasa ‘bosan’ mendengarnya. Tapi setidaknya hari itu lewat kisah-kisah mereka, saya pribadi, kembali diingatkan mengenai kenyataan betapa HIV/AIDS kini serupa bara yang api-nya siap ‘menelan’ siapa saja dalam diam (jika tidak waspada).

Seperti kita semua tahu, beberapa decade belakangan, HIV/AIDS di dunia memang semakin “mengganas”. Joint United Nations Programme to HIV/AIDS (UNAIDS) mencatat, hingga akhir tahun 2005 diperkirakan sekitar 39 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV/AIDS. Sebagian besar dari mereka berada di negara-negara berkembang. Tahun lalu 4,1 juta orang, tercatat sebagai pasien baru HIV/AIDS dan 2,8 juta orang meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan AIDS.

HIV/AIDS menjadi lebih “mengerikan” lagi, karena adanya fakta sulitnya para ODHA di sebagian besar negara berkembang dan miskin untuk bisa mendapatkan antiretroviral. UNAIDS mencatat, dari 6,8 juta ODHA di negara-negara berkembang dan miskin, hanya 24% atau 1,6 juta orang yang memiliki akses untuk mendapatkan antiretroviral. Kesenjangan akses untuk mendapatkan antiretroviral, bahkan jauh lebih besar lagi terjadi di kalangan anak-anak di bawah usia 15 tahun. Hanya 8% hingga 13% dari 800.000 anak-anak yang membutuhkan perawatan pengobatan HIV/AIDS, yang bisa mendapatkan akses antiretroviral.

Sulitnya mendapatkan antiretroviral bagi ODHA di negara-negara berkembang dan miskin, bukan hanya persoalan utama yang menghantui kehidupan ODHA sendiri maupun kita yang yakin (masih) “terjauhkan” dari HIV/AIDS. Di luar itu, masih ada sederet persoalan yang mesti “diselesaikan” segera oleh kita (juga pemerintah) dalam menghadapi penyakit mematikan ini. Salah satunya, adalah persoalan diskriminasi yang kerap didapatkan oleh para ODHA dari lingkungannya.

Sebab stigma yang begitu kental terhadap kalangan ODHA, jika kita telisik lebih jauh, bisa jadi tidak hanya melahirkan luka pekat bagi para ODHA. Tapi juga bagi kita semua. Lihatlah, bagaimana akibat sikap diskriminasi lingkungan Bara di atas. Bayangkan apa yang terjadi, jika Bara tetap tidak sadar akan bahaya dari rasa dendam dan amarahnya karena merasa “diasingkan” pada saat terpuruk? Kita (mungkin) bisa kehilangan kata-kata untuk menjawabnya.